WFH, Tak Menyurutkan Kinerja

Masa pelaksanaan WFH bagi ASN  LPMP DKI diperpanjang yaitu  tahap 2  tanggal 2 sampai dengan tanggal 17 April 2020.  Dan kini diperpanjang lagi tahap 3 dari tanggal 20 sd 30 April 2020. Kebijakan penambahan masa WFH bagi ASN disampaikan melalui  Surat Edaran Menteri PAN RB  No. 34 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja ASN dalam Upaya Pencegaran Covid-19 di lingkungan instansi pemerintah. Selama WFH, ASN harus tetap terus mematuhi aturan kerja yang sudah ditetapkan melalui SKP. Setiap ASN diminta untuk membuat rencana kerja dan capaian kinerja harian, serta output harian sesuai rencana.

 Bagaimana mempertahankan kinerja selama WFH?

Sebagai seorang ASN yang memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang telah disusun di SKP, ASN pastinya  mendapat tantangan luar biasa selama WFH.  Setiap ASN dengan jabatannya masing-masing harus memberikan hasil kerja terbaik sekaligus mendampingi anak selama belajar di rumah ditambah kesibukan lainnya. Waktu kerja di kantor yang biasanya fokus hanya untuk menyelesaikan tugas kantor, kini bersamaan dengan tugas lain yang harus juga dilaksanakan, mengingat saat ini semua kegiatan berpusat di rumah, “bekerja, belajar dan beribadah di rumah”

Tantangan ini di minggu pertama WFH sungguh menguras energi. Menjalankan peran menjadi pendamping anak untuk belajar dengan agenda yang telah ditetapkan dari sekolah untuk dilaporkan setiap hari dan menunaikan tugas yang diberikan selama WFH untuk juga dilaporkan setiap hari sungguh luar biasa dan cukup melelahkan karena saat itu benar benar tak kenal waktu. Untuk bisa fokus pada tugas kantor harus menunggu pekerjaan rumah selesai atau anak-anak istirahat atau tidur.

Selain itu ASN dituntut untuk memutar otak, kreatif menciptakan strategi baru menyesuaikan dengan kondisi  WFH, karena kita tetap harus memperhatikan target kinerja dengan menghasilkan output yang dapat menyumbang ketercapaian kinerja Lembaga yang pada ujungnya adalah realisasi anggaran yang telah ditetapkan.

Pengaturan waktu dibuat terjadwal agar semua kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik. Selain itu juga  memberikan pengertian kepada anak,  bahwa orang tuanya juga memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya sehingga mereka dapat memberikan waktu kepada orang tua untuk fokus menyelesaikan tugas kantornya. Komunikasi dengan anak dan  pembagian waktu kegiatan di rumah yang disepakati bersama inilah yang menjadi titik awal saya dapat fokus bekerja di rumah dan menyelesaikan tugas dengan baik sebaik ketika saya bekerja di kantor.

WFH tidak menyurutkan kinerja sebagai ASN. Semua kembali ke individu ASN masing-masing karena sesungguhnya saat WFH, kita tetap harus memenuhi target di SKP karena sejatinya WFH hanya memindahkan lokasi tempat bekerja dari kantor ke rumah.

Apa kata mereka tentang kinerja selama WFH?

Bagi saya sebagai seorang ASN, saya memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang telah disusun di SKP, menjadi tantangan luar biasa selama WFH ini. Saya yang memiliki anak masih usia Sekolah Dasar harus memberikan hasil kerja terbaik sekaligus mendampingi anak selama belajar di rumah ditambah kesibukan sebagai ibu rumah tangga. Waktu kerja di kantor yang biasanya fokus hanya untuk menyelesaikan tugas kantor, kini bersamaan dengan tugas lain yang harus juga dilaksanakan, mengingat saat ini semua kegiatan berpusat di rumah, “bekerja, belajar dan beribadah di rumah”.  Bagi saya seorang ibu, saya memiliki tugas yang sama pentingnya dengan menunaikan tugas kantor yaitu mendampingi anak belajar di rumah karena anak pun berpindah belajar dari sekolah ke rumah dan harus melaporkan hasil belajarnya setiap hari kepada sang guru.  Untuk bisa fokus pada tugas kantor harus menunggu anak-anak istirahat atau tidur. Pengalaman saya, agar semua bisa berjalan dengan baik maka perlu mengatur waktu. Selanjutnya diatur waktu terjadwal agar semua kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik dan memberikan pengertian kepada anak bahwa orang tuanya juga memiliki tanggung jawab dalam pekerjaannya sehingga mereka dapat memberikan waktu kepada orang tua untuk fokus menyelesaikan tugas kantornya. Komunikasi dengan anak dan pembagian waktu kegiatan di rumah yang disepakati bersama inilah yang menjadi titik awal saya dapat fokus bekerja di rumah dan menyelesaikan tugas dengan baik sebaik ketika saya bekerja di kantor. – Rakhma

 

Ngomong kualitas ataupun kuantitas kinerja pegawai di trend WFH saat ini gaess… yang muncul sebagai dampak dari wabah dahsyat Corona, menurut saya sebaiknya meletakkan standar kinerja yang membumi, yes benar-benar napak di bumi. Bukan di langit, ketinggian atau di laut lawannya tinggi. Para pemilik kebijakan dan pegawai sebaiknya saling mafhum bahwa perubahan metode kerja ini memerlukan waktu untuk beradaptasi. Saling mafhum sesuai area porsinya. Yang pemilik kebijakan mafhum bahwa dalam menetapkan standar kualitas kinerja itu perlu bertahap menyesuaikan waktu normal kemampuan seseorang beradaptasi, sedangkan yang pegawai ya mafhum juga bahwa WFH itu harus tetap membuat kinerja nyata, bukan nyantai juga. Dengan saling mafhum begitu harapannya perubahan metode kerja ini dapat dilaksanakan dengan nyaman oleh semua pihak. Nyaman hingga tetap konsisten melahirkan kinerja-kinerja manfaat sebagai bentuk tanggung jawab yang Lillah. Insyaa Allah. –antikesuma

 

Bicara tentang WFH, maka saya akan bicara tentang sisi kebaikan dan kekurangan WFH versi saya.Kebaikannya antara lain berkurangnya konflik atau gesekan dengan rekan sekerja karena tidak bertemu, lebih fokus dalam bekerja untuk sebagian orang  khususnya yang tidak ada tanggungan pekerjaan di rumah seperti mengurus anak atau melakukan pekerjaan rumah, dan munculnya inovasi baru seperti adanya aplikasi WFH yang memudahkan atasan mengontrol hasil pekerjaan staf setiap harinya sebagai pelengkap log harian SKP.  Sedangkn kekurangan WFH diantaranya adalah kurang efektif khususnya untuk subbag umum karena pekerjaan bersifat rutin dan berkas pekerjaan sebagian besar ada di kantor sehingga harus menunggu WFH selesai baru dapat mengerjakan PRnya, sebagian orang agak sulit berkomunikasi via medsos, sehingga sedikit menyulitkan pekerjaan kantor dibandingkan bila bertemu yang tentunya lebih mudah berkoordinasi dan solusi bisa cepat diperoleh, untuk subbag umum yang stafnya banyak agak sulit mengontrol hasil pekerjaan, dan kurangnya kebersamaan dan keceriaan bersama teman2 kantor yg saat ini begitu dirindukan 🙂 – Laili Rakhma

 

Ada 3 hal yang menjadi catatan saya tentang kinerja ASN selama WFH. Pertama, waktu tidak lagi mengikat karena kita bisa bekerja kapan saja, tergantung kita mengaturnya. Kondisi ini justru seringkali menjadi satu tantangan terutama untuk para ibu, kaum perempuan yang memiliki kewajiban utama mengurus keluarga.  Sehingga tak heran, di saat sedang mengerjakan tugas kantor, diselingi dengan aktivitas mengurus keluarga. Dampaknya adalah bisa jadi output yang kita rencanakan satu hari akhirnya bisa tercapai dalam dua bahkan tiga hari. Kedua, setiap rincian sasaran kinerja berbeda-beda karakteristiknya. Bisa jadi ada tugas kita yang mengharuskan hadir secara fisik di kantor, seperti layanan perawatan, pemeliharaan, cek fisik dan lain-lain. Hal ini tentunya tidak bisa lagi dikerjakan dari rumah, yang akhirnya berdampak pula pada ketercapaian kinerja harian. Apabila diakumulasi akan mempengaruhi berkurangnya realisasi output yang sudah direncanakan di awal. Ketiga, ketersediaan sarana pendukung dalam kita bekerja, baik fisik seperti komputer, laptop sampai non fisik seperti data, aplikasi, jaringan, dan lain-lain, tentunya berbeda untuk setiap individu. Ada yang semuanya tersedia, tapi banyak juga yang memiliki keterbatasan. Tentunya lembaga tidak bisa menuntut setiap orang untuk menyediakan sarana pendukung di rumah masing-masing dengan lengkap, sehingga keterbatasan ini menjadi salah satu penyebab tidak tercapainya sasaran kinerja pegawai.  Dari hal-hal tersebut, bisa diartikan bahwa kondisi kita saat ini dengan bekerja dari rumah, mau tidak mau, suka tidak suka akan mempengaruhi berkurangnya kinerja pegawai secara individu yang kemudian akan mempengaruhi ketercapaian kinerja secara lembaga, yang tentunya berimbas pula pada realisasi anggaran. – irniw170420

 

Buat saya, WFH ini pengalaman berharga dalam hidup ini. Belajar menikmati masa berkumpul dengan keluarga. Bekerja, Belajar dan Beribadah di rumah bersama keluarga. Jika dihubungkan dengan kinerja, maka saya berupaya memiliki output pekerjaan sesuai dengan SKP yang saya miliki. – dyahsl

 

Bicara tentang  kinerja  kita selama WFH  buat saya  agak kesulitan jika dihubungkan dengan jabatan saya, karena saya  tidak berada dalam posisi the right man in the right place, tapi selama WFH saya lebih banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain dengan membuat youtube. Ini youtube yang sudah saya buat: https://youtu.be/ZqE9KNGMFwM, https://youtu.be/7BRVKuNPRBE, https://youtu.be/B4yAV01R1aU , https://youtu.be/rF0HVFqWMtI, https://youtu.be/iyEDvVG-ixU , https://youtu.be/WvkjmN0J1p4 …Suscribe ya…. 🙂 – Agus D

Intinya kita bekerja bukan hanya mengejar kinerja yang baik dan daya serap anggaran yang tinggi, lebih penting dari itu adalah sebagai muslim tetap berpegang pada prinsip bahwa bekerja adalah ibadah. Apapun tugas kita, dimanapun kita bekerja, tetaplah menghasilkan output yang baik sehingga waktu kita selama bekerja dari rumah lebih bermakna.

Tentunya kita berharap, pandemi ini segera berakhir, sehingga kita bisa kembali beraktivitas dengan normal, bekerja dari kantor, bisa bertemu dan bersosialisasi dengan rekan kerja.  Walaupun saat ini teknologi sudah sangat memudahkan untuk berkomunikasi, namun tetap lah bertatap muka, bertemu langsung menjadi hal yang dirindukan. Salam Integritas (Tim Komite ZI-WBK)

Bagikan ..

Eyoni Maisa

Bagikan ..