Travel writing

Jogja, tempat aku pulang

Dua jam lagi menuju tengah malam.

Bagiku, Jogja selalu istimewa. Suasananya sanggup memanggil rindu untuk pulang. Menu makan malam andalanku di kota sahabatku ini adalah bakmi lokal yang legendaris. Menu mie basah yang direbus dengan topping kol dan daung bawang seledri, potongan bakwan terigu yang gurih, dan ayam kampung yang disuwir. Semua bahan-bahan itu dicampur dengan kocokan telur bebek yang menjadikan nikmatnya semakin solid. Komposisi pas yang menjadikan rasa racikan makan malam, ataupun makan kelewat malam yang tak hapus dikenang.

Aku turun dari kendaraan roda dua warna merah milik sahabatku. Sepeda motor antik merk Honda keluaran tahun 60-an itu juga melengkapi persahabatan kami yang unik. Singkat kata, cukup dramatis kisah perkenalan kami awalnya. Sensasi kemistrinya tak kalah fantastis dengan mie kondang di salah satu sudut kota ini, Bakmi Kadin. Menunggu sahabatku memarkir sepeda motornya, indera cecapku sudah melanglang menyusuri kenangan rasa yang mulai berloncatan.

Asap kayu bakar yang bertandang anglo (wajan yang terbuat dari tanah liat) di atasnya menebarkan aroma selera khas yang memanggil kenangan. Kenangan nikmat yang kental menyisa di memori lidahku. Bakmi Kadin merupakan destinasi kuliner mie yang sangat populer di Jogjakarta. Cita rasa resep warisan turun-temurun yang begitu khas bumi Jawa. Menikmatinya di malam hari libur akan semakin magis sensasinya, karena syahdu diiringi aksi alunan musik akustik dari sekelompok pemain musik tradisional. Pengalaman yang cukup mengesankan. Namun, harus sabar mengantri meja kosongnya.

“Godog apa goreng?” Sahabatku memecah lamunan kenanganku.
“Godog, tidak pakai lama.” Kujawab asal sambil mengulas senyum.
“Kalau yang tidak pakai lama, kamu disuruh masak sendiri di sana” sahabatku menunjuk deretan gerobak para juru masak yang berjejer merampungkan pesanan tamu-tamu lapar yang hendak bernostalgia rasa ke sini. Aku memanyunkan bibirku mencibir idenya, gaya manja perempuan pada umumnya. Yang dicibir malah nyengir.
Menunggu pesanan kami diantar, iringan lagu dan musik bernuansa campuran modern dan tradisional ini semakin membangunkan kesadaranku bahwa aku sedang di Jogja. Menikmati potongan malamnya dengan kehangatan senyum sahabat dan sepiring bakmi hangat. Sahabat yang selalu mengerti akan arti sebuah kerinduan rasa.

Bakmi Kadin semakin menggugah selera dinikmati dengan cabe rawit segar. Berkawan teh tawar panas berwarna pucat yang menjadi manis dengan renyahnya canda cerita sahabat. Teman baik yang tak pernah habis kisah membuatkan keriangan bagi hati yang penat. Kebersamaan yang mengendapkan beribu rasa. Di bening mata coklatnya, kutitipkan semua cerita malam-malam di Jogja, di bawah langit pekat berhias bulan dan taburan bintang. Sepekat rasa yang tak tercerna, yang kini tinggal menjadi kenangan, pada nisan yang bertabur kembang. Ia telah berpulang. Alfatihah sahabat.

Memahami Travel Writing

‘Jogja, tempat aku pulang’ ini adalah sebuah contoh petikan cerpen travel writing dengan angle cerita kuliner khas suatu daerah. Tulisan travel writing adalah sebuah bentuk tulisan populer yang sudah banyak dilakukan orang, baik secara sadar menulis sebagai produk literasi ataupun tulisan spontan yang ekspresif sebagai hasil pengalaman dari sebuah perjalanan.

Travel writing adalah feature perjalanan, sebuah jenis tulisan jurnalistik bukan berita. Ia fakta/bukan khayalan yang ditulis dengan gaya fiksi/sastrawi. Pada sebuah kelas menulis bersama Mas Gol A Gong, penulis menyimpulkan ada 6 hal yang selayaknya ditulis dalam sebuah rangkaian cerita perjalanan, yakni:

  • Transportasi apa yang digunakan menuju tempat tujuan
  • Penginapan apa yang dipilih untuk tinggal
  • Kuliner apa yang bisa dinikmati
  • Destinasi wisata apa saja yang mesti dikunjungi
  • Oleh-oleh khas yang populer
  • Bagaimana melakukan ibadah saat di tempat tujuan

Dari ke-6 nya itu dapat ditentukan angle apa yang paling ingin dituliskan. Secara umum, travel writing adalah tulisan informatif yang lebih dari sekadar memberi informasi, tapi dapat menggiring pembaca pada imajinasi.

Stora24 menyimpulkan bahwa tujuan menulis travel writing antara lain untuk berbagi pengalaman dari sebuah perjalanan, mempromosikan sebuah destinasi wisata, kuliner ataupun budaya khas suatu daerah, atau sebagai tulisan kenangan/diary. Minimalnya, tulisan travel writing dapat disajikan untuk updating status di medsos, why not? Sepanjang tulisan tidak mengandung hal-hal yang melanggar aturan publikasi.

Terakhir, satu hal yang tidak boleh tertinggal dalam sebuah tulisan travel writing adalah penyertaan foto sebagai bukti autentik dari cerita perjalanan yang dibuat.

Abadikan momen perjalanan kamu dalam tulisan travel writing yuk, jika berminat untuk tahu lebih banyak lagi tentang jenis tulisan jurnalistik ini, colek aja Stora24. Happily sharing, friends.

ak/9 September 2020

 

Bagikan ..

Eyoni Maisa

Bagikan ..

Open chat