Stora 24: MERDEKA!

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang…

 

Petikan puisi AKU-Chairil Anwar

 

Baris-baris puisi penyair satu ini sering membuat bergidik, merinding merasakan betapa merdekanya jiwa seorang Chairil Anwar, yang melahirkan puisi-puisi bombastis dan liar. Ia pelopor pembaharuan seni sastra di Indonesia. Karya puisi Chairil Anwar sangat jauh dari bahasa basa-basi dan ungkapan yang penuh tata rias, ia lugas tanpa dihias-hias.

Apakah ekspresi kita sudah semerdeka ini?

Bentuk ekspresi dapat lahir dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Dimana keempat aktivitas diri tersebut sudah pasti melekat pada setiap individu manusia. Semua orang pasti melakukan keempatnya, tapi belum pasti semua melakukannya dengan merdeka. Banyak hal ihwal tetek bengek yang membuat orang ‘membatasi’ kemerdekaan dirinya dalam berpikir, merasa, berkata dan bertindak. Namun penulis mencoba mengurai 4 perkara yang melandasi merdeka dan belum merdekanya ekspresi seseorang.

Kompetensi Intelektual

Kompetensi intelektual meliputi wawasan pengetahuan dan kekayaan pengalaman. Pada umumnya, seseorang dengan muatan penuh pengetahuan dan pengalaman akan lebih merdeka dalam berekspresi. Mereka cukup modal dalam melandasi setiap ekspresinya. Singkat kata, barisan orang-orang ini biasanya pede maksimal berbekal fakta dan data, sehingga mereka mampu mengekspresikan kemerdekaan berkata dan bertindaknya dengan tanggung jawab keilmuan.

Strata Sosial

Di era milenial ini mungkin warisan budaya masyarakat berkasta sudah semakin meluntur. Tidak kental lagi jurang pembedaan antara masyarakat darah biru atau yang bukan darah biru. Merah Putih kita menyatukan bangsa ini bahwa darah semua orang adalah merah. Namun, hirarki kasta tak kasat mata tak bisa dipungkiri keberadaannya. Ambil contoh pembedaan layanan bagi si miskin dan si kaya, padahal miskin ataupun kaya hak merdekanya adalah sama. Sembuhkanlah diri kita dari pembedaan strata sosial yang menindas kesamaan hak merdeka di antara kita, sehingga setiap jiwa menemukan kemerdekaannya.

Kesempurnaan Fisik

Mereka yang memiliki fisik yang sempurna tanpa cacat biasanya tampil lebih percaya diri dibanding mereka yang memiliki kekurangsempurnaan fisik. Namun semestinya tidak berpengaruh pada hak merdekanya. Mereka yang sempurna ataupun yang memiliki cacat fisik di dalam negara sama-sama memiliki hak merdeka dalam berpendapat dan bertindak. Begitu pun orang-orang dengan wajah rupawan tak berarti lebih merdeka dari yang berparas pas-pasan. Hati-hati, jangan tertipu penampilan fisik. Tong kosong tetap nyaring bunyinya.

Karakter Diri

Contoh kemampuan berekspresi secara merdeka dikaitkan dengan karakter diri dapat diambil dari petikan puisi AKU-Chairil Anwar di atas. Contoh tersebut sedikitnya dapat menggambarkan bahwa pembawaan diri/karakter melandasi keberanian seseorang untuk tampil sebagai sosok yang merdeka atau yang masih tertindas. Mereka yang berkarakter optimis akan lebih ekspresif kemerdekaannya dibanding mereka yang berkarakter pesimis. Mereka yang dinamis akan lebih berani berkata ataupun bertindak daripada mereka yang statis.

Keempat uraian di atas tentang kompetensi intelektual, strata sosial, kesempurnaan fisik dan karakter diri, dapat disimpulkan dalam satu rumusan yakni jiwa merdeka tumbuh alami ketika diri telah menemukan jati diri. Jati diri itu adalah segala hal tentang diri kita yakni suatu hal yang ada di dalam diri kita, meliputi karakter, sifat, watak dan kepribadiannya.

Mari kita sambut perayaan Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia dengan jiwa yang merdeka, bukan sekadar upacara dan mengibarkan bendera. Salam Merah-Putih!

ak/12 Agustus 2020

Bagikan ..

Eyoni Maisa

Bagikan ..

Open chat