Sehat Verbal

Oktober adalah Bulan Bahasa, merujuk pada sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar tentang menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Memaknai bulan bahasa, seringkali dirayakan dengan kemeriahan event sastra yang berkait dengan penulisan ataupun pembacaan karya-karya sastra. Memang, ketika bicara bahasa seringnya yang nyantol di kepala itu hal ihwal tentang kesusasteraan.

Bagaimana dengan maraknya pembuatan konten di media sosial?

Yes, ini juga sangat erat dengan kebahasaan. Membuat konten tulisan atau video sangat memerlukan keterampilan berbahasa, saat menyusun materi ataupun script yang akan dipublikasi. Meski dikemas secara populer, nyentrik ataupun sersan –serius tapi santai,  mengunggah konten di medsos bukan berarti leluasa berbahasa yang bebas sebebas-bebasnya. Eloknya, kita tetap perlu menjaga kepantasan kalimat kita dan kelaziman berbahasa agar tujuan berkomunikasi tercapai.

Membuat Status di Media Sosial

Tips singkat menulis status di medsos kuncinya cukup 2, yakni kalimatnya jelas dan isinya bermanfaat. Bisa mengandung pesan informatif, inspiratif, ataupun kontributif. Hindari diri dari menulis hal-hal yang menyakiti, menghasut juga memusingkan.

Wabah Covid ini sudah amat bikin pusing, hendaknya jangan lagi ditambah ruwet dengan keisengan jari-jemari mengunggah tulisan-tulisan yang semakin bikin merana pembacanya. Jadilah bagian dari orang-orang yang sehat verbal.

Keuntungan dari Gemar Menulis

Meski tak berlaku mutlak, namun kebanyakan penulis-penulis terlatih memiliki keluwesan dalam berpikir dan bertindak. Luwes bukan berarti plin-plan. Luwes itu adaptable in English, yakni peka terhadap konteks atau keadaan. Sedangkan plin-plan itu sebuah keadaan diri yang mudah terbawa arus situasi.

Penulis produktif itu umumnya memiliki cara berpikir yang tidak awur-awuran. Seperti outline, otak mereka sangat terstruktur. Mereka juga terbiasa bersikap tuntas dalam menyelesaikan pekerjaan karena terbiasa dituntut deadline. Ini hanya sebuah generalisasi prematur, karena yang bukan penulis pun banyak juga yang berkarakter seperti itu. Karena perkara karakter tidak bisa dijabarkan pasti seperti rumus Matematika.

Percaya atau Tidak Percaya

Menulis bukan semata merangkaikan kalimat demi kalimat, tapi aktivitas menyajikan pokok pikiran dalam rangkaian kalimat yang mudah dimengerti orang. Jadi percaya atau tidak percaya, menulis juga efektif dijadikan terapi bagi mereka yang mengalami keadaan sebagai berikut:

  • bawaan mikir yang mbulet alias ruwet
  • bawaan bicara yang berbelit
  • bawaan bertindak yang absurd
  • bawaan tidak mengerti tujuan yang hendak dicapai

Weww… rumit juga nih kalau mengidap penyakit verbal macam begitu.

Yuk, sehatkan verbal kita dengan terapi menulis, jangan sampai mengidap gagap berbahasa apalagi tak cakap dengan bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Latih diri untuk terbiasa menulis dengan banyak membaca agar kecakapan verbal kita terasah dengan baik. Jika menulis novel terlalu berat, mulai saja dengan latihan menulis niat di dalam hati. Selalu ada cara di setiap kemauan yang menyala-nyala. 


Kami poetra dan poetri Indonesia,
Mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.

Djakarta, 28 Oktober 1928

 

 ak/28  Oktober 2020

Bagikan ..

Eyoni Maisa

Bagikan ..

Open chat