RTI – Respon Terhadap Intervensi; Strategi Mengembangkan Kompetensi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus pada Masa Pandemi
Oktora Melansari, S.Sos, MA

Kunci sukses pembelajaran adalah dengan memahami karakteristik dan kebutuhan anak melalui asesmen awal, hal ini berlaku untuk semua peserta didik, termasuk pada siswa berkebutuhan khusus. Strategi Respons to Intervention (RTI) atau Respon Terhadap Intervensi adalah salah satu cara yang dapat menjadi alternatif menerapkan pengambilan keputusan berbasis data proaktif, yang memberi guru informasi lebih baik dan lebih tepat waktu tentang siswa untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja siswa. Episode Belajar Bersama dalam Jaringan (BerBaring) kali ini (Jumat, 08/10/2021) membahas tema RTI – Respon Terhadap Intervensi; Strategi  Mengembangkan Kompetensi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Pada Masa Pandemi dengan narasumber Dr. Agustiyawati, M.Phil.SNE (Pengawas Sekolah PLB Sudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat), dipandu moderator Ati Rosidah, M.Pd (PTP Ahli Muda LPMP Provinsi DKI Jakarta).

Narasumber yang pernah meraih Pemenang I Pengawas Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2019 tersebut menjelaskan bahwa RTI merupakan kerangka pikir (framework) yang dapat digunakan untuk membantu anak mencapai keberhasilan di dalam kelas,  mengurangi kegagalan akademik siswa, mengukur proses pembelajaran yang sedang berlangsung, mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan lebih atau pengajaran yang berbeda, hingga memberikan pendidikan berkualitas sesuai kebutuhan siswa.

RTI bertujuan untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan sejak dini dan memberi mereka dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang di sekolah sehingga guru dapat memberikan pengajaran yang ditargetkan, yang disebut intervensi, untuk membantu siswa yang kesulitan mengejar ketertinggalannya. Sebagian besar proses RTI melibatkan pemantauan kemajuan siswa.

RTI dirancang untuk menjangkau siswa yang bermasalah di kelas reguler, sehingga mengurangi jumlah siswa yang dirujuk ke layanan pendidikan khusus (Hall 2008). Pendekatan multi-tier untuk identifikasi awal dan dukungan siswa dengan kebutuhan belajar dan perilaku, di mana keputusan pendidikan tentang intensitas dan durasi intervensi didasarkan pada respon individu siswa terhadap instruksi, serta  pelaksanaan progress monitoring berkelanjutan.

Paparan materi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang diikuti secara antusias oleh para peserta. Salah satu pertanyaan yang menarik dari Erna Nurhayati, Guru SMPN 31 Jakarta, yang menanyakan tentang Sekolah Umum yang menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), terkait bagaimana cara penilaian hasil belajar ABK karena kendala penerimaan materi dibanding dengan teman sekelas lainnya, sementara guru cenderung mengabaikan proses pembelajaran ABK tersebut. Narasumber menjelaskan bahwa dengan melakukan RTI, KKM secara kuantitatif harus sama antara ABK dengan siswa reguler, sedangkan untuk kualitatif harus dibedakan, sehingga indikator penilaiannya harus berbeda. Buat soal sesuai dengan titik kemampuan ABK tersebut, kemudian secara diperlukan kerjasama antara pihak sekolah, pengawas, serta orangtua untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam pembelajaran.

Dengan melalukan RTI, guru bisa mendiferensiasi kemampuan masing-masing anak sehingga kesuksesan pembelajaran dapat tercapai. Karena setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda dalam pendidikan, maka optimalisasi perkembangan peserta didik harus meliputi semua aspek: daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif), sehingga menjadi manusia yang berkembang utuh dan berbudaya. Jangan lelah pahami anak-anak kita, tetap semangat demi generasi bangsa yang lebih maju…!

Masih banyak pertanyaan dan informasi lain yang sangat menarik untuk disimak, ikuti tayangan BerBaRing ini melalui kanal youtube Official LPMP DKI pada link:

https://bit.ly/StrategiMengembangkanKompetensiPesertaDidikKebutuhanKhusus

 

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..

Open chat