Artikel

Pembelajaran Sosial Emosional
Rahmah Kurniawaty (Widyaprada BPMP Provinsi DKI Jakarta)

Social Emotional Learning (SEL), apa itu? dan mengapa penting bagi pendidik?.  Kadang guru mendengar dialog seperti ini dari siswa, “Ini bodoh,” atau “Mengapa kita mempelajari ini?” Coba ingat-ingat lagi, dulu saat Anda masih di sekolah dan mata pelajaran yang paling membuat Anda frustrasi.

Anda mungkin akan menemukan kesamaan dengan siswa Anda dan berharap dulu Anda juga diberi alasan yang jelas mengapa sesuatu itu penting dan bagaimana mempelajari suatu mata pelajaran atau keterampilan akan bermanfaat bagi Anda, dan tetap mengendap sampai bertahun-tahun kemudian, atau bahkan sampai sekarang. Rasa frustrasi siswa dan bagaimana menemukan cara yang konstruktif untuk menangani emosi dan berinteraksi satu sama lain dengan  sopan dan hormat merupakan pijakan untuk melakukan pembelajaran sosial emosional atau SEL di sekolah.

Saat ini, di dunia yang semakin beragam, ruang kelas adalah tempat di mana siswa pertama kali bertemu dengan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda, memiliki keyakinan berbeda, dan memiliki kemampuan unik. Dengan adanya perbedaan-perbedaan ini dan untuk membantu semua siswa pada posisi yang sama untuk sukses, disinilah pembelajaran sosial dan emosional (SEL) berperan, yaitu untuk membantu siswa lebih memahami pikiran dan emosi mereka, menjadi lebih sadar diri, dan mengembangkan lebih banyak empati terhadap orang lain di dalam diri mereka, komunitas mereka dan dunia di sekitar mereka.  Mengembangkan kualitas-kualitas ini di kelas dapat membantu siswa menjadi warga negara yang lebih baik, lebih produktif, sadar diri, dan sadar sosial di luar kelas di tahun-tahun mendatang.

Apa itu Pembelajaran Sosial Emosional (SEL)?

Pembelajaran sosial emosional (SEL) adalah metodologi yang membantu siswa dari segala usia untuk lebih memahami emosi mereka, merasakan emosi tersebut sepenuhnya, dan menunjukkan empati terhadap orang lain. Perilaku yang dipelajari ini kemudian digunakan untuk membantu siswa membuat keputusan yang positif dan bertanggung jawab; membuat kerangka kerja untuk mencapai tujuan mereka, dan membangun hubungan positif dengan orang lain

Lima Kompetensi Pembelajaran Sosial Emosional

Menurut Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL), sebuah organisasi yang ditujukan bagi siswa dan pendidik untuk membantu mencapai hasil positif bagi siswa pendidikan dasar dan menengah, SEL melibatkan lima kompetensi inti yang dapat diterapkan baik di ruang kelas, di rumah dan di komunitas siswa. Kelima kompetensi inti tersebut adalah:

  1. Kesadaran diri, untuk mengenali emosi Anda dan pengaruhnya terhadap perilaku Anda; mengakui kekuatan dan kelemahan Anda untuk lebih percaya diri pada kemampuan Anda.
  2. Manajemen diri, untuk mengambil kendali dan kepemilikan atas pikiran, emosi, dan tindakan Anda dalam berbagai situasi, serta menetapkan dan berupaya mencapai tujuan.
  3. Kesadaran sosial, kemampuan untuk menempatkan diri Anda pada posisi orang lain yang mungkin berasal dari latar belakang atau budaya yang berbeda dengan tempat Anda tumbuh. Bertindak dengan empati dan dengan cara yang etis di rumah, sekolah, dan komunitas Anda.
  4. Keterampilan hubungan, kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang sehat dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Kompetensi ini berfokus pada mendengarkan dan mampu berkomunikasi dengan orang lain, menyelesaikan konflik secara damai, dan mengetahui kapan harus meminta atau menawarkan bantuan.
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab, memilih cara bertindak atau merespons suatu situasi didasarkan pada perilaku yang dipelajari seperti etika, keselamatan, mempertimbangkan konsekuensi, dan kesejahteraan orang lain, serta diri Anda sendiri.

Bagaimana Pendekatan Pendidik SEL

Meskipun SEL bukanlah mata pelajaran khusus seperti sejarah atau matematika, SEL dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Ketika guru menjadikan pelajaran akademis lebih pribadi dan berhubungan dengan siswa, siswa mungkin lebih cenderung untuk berpartisipasi dan cenderung secara mental tidak beralih memikirkan yang lain selama mata pelajaran mereka. Dengan menumbuhkan rasa empati, kesadaran diri, dan perasaan aman serta inklusivitas di kelas, SEL dapat memberikan dampak positif yang bertahan seumur hidup.

Ada beberapa pendekatan berbeda untuk SEL. Beberapa guru mengkhususkan jam tertentu untuk melatihkan SEL — terkadang diajarkan di kelas. Pelajaran ini menjadi tema yang berulang sepanjang sisa hari sekolah untuk membantu menjadikan kompetensi inti SEL lebih nyata bagi siswa dan akhirnya siswa terbiasa.

Guru dapat menugaskan siswa membuat jurnal atau menulis tentang pemikiran dan perasaan mereka pada pelajaran SEL tertentu, atau bahkan meminta siswa yang lebih muda bermitra dengan “teman kelas” yang lebih tua (atau sebaliknya) untuk membantu siswa dari berbagai tingkat usia untuk menjalin ikatan atau menemukan titik temu .

Guru lain menerapkan pelajaran terkait SEL ke dalam mata pelajaran yang lebih formal, seperti matematika, sejarah, atau membaca. Misalnya, contoh tindakan SEL dapat mencakup menugaskan proyek kelompok di mana siswa mendelegasikan peran untuk bekerja sama demi kebaikan kelompok, bermain peran sebagai tokoh sejarah untuk memahami alasan di balik tindakan seseorang, atau bagi siswa untuk melakukan wawancara formal satu sama lain untuk mengetahui kejadian terkini.

Guru juga dapat bekerja dengan siswa untuk menetapkan tujuan di materi-materi yang mungkin perlu ditingkatkan dan membantu memetakan kemajuan mereka, memberi mereka cara terukur untuk menunjukkan pencapaian dan merasakan pencapaian.

Manfaat SEL

SEL bermanfaat bagi anak-anak dan orang dewasa, meningkatkan kesadaran diri, prestasi akademik, dan perilaku positif baik di dalam maupun di luar kelas. Dari sudut pandang akademis, siswa yang berpartisipasi dalam program SEL mengalami peningkatan nilai keseluruhan   dan kehadiran yang lebih baik. Pada tingkat yang lebih individual, keterampilan yang dipelajari dalam program SEL telah terbukti membantu siswa mengatasi tekanan emosional, memecahkan masalah, dan menghindari tekanan teman sebaya untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya dengan lebih baik.

Siswa yang dilatih untuk menghadapi masalah yang mempengaruhi mereka pada tingkat pribadi akan lebih mampu mengarahkan tekanan kehidupan Ketika dewasa.  Guru dapat melihat siswa mana yang tidak memahami   SEL, sehingga guru dapat mengatur strategi pembelajaran yang berfokus pada kerja tim dan membantu siswa mengembangkan pengendalian diri, empati, dan kualitas positif lainnya yang lebih baik.

Mempelajari perilaku positif yang melampaui tingkat pencapaian akademis semata dapat membantu siswa mengembangkan “soft skill” yang diperlukan dalam banyak pekerjaan, seperti kerja tim, dan kemampuan untuk memahami orang lain, serta pemecahan masalah. Hal ini dapat membantu mempersiapkan siswa untuk sukses sepanjang masa sekolah mereka dan seterusnya.

Apa itu Teori Pembelajaran Sosial Emosional?

Secara umum, pembelajaran sosial dan emosional (SEL) mengacu pada proses di mana individu mempelajari dan menerapkan serangkaian keterampilan, sikap, perilaku, dan nilai-nilai sosial, emosional, dan terkait yang membantu mengarahkan siswa. Hal ini mencakup pemikiran, perasaan, dan tindakan yang memungkinkan mereka berhasil di sekolah. Namun, SEL telah didefinisikan dalam berbagai cara (Humphrey et al., 2011).

Bagaimana Anda Memasukkan Pembelajaran Sosial Emosional di Kelas?

Ada banyak cara untuk memasukkan SEL ke dalam kelas. Ide utamanya adalah untuk memberikan pengaruh SEL yang berkelanjutan sepanjang hari. Pada awalnya, Anda dapat memulai dengan bertanya kepada siswa untuk mengetahui perasaan mereka. Cara hebat lainnya adalah dengan memberikan siswa kesempatan untuk melihat bagaimana situasi yang sulit atau menyusahkan ditangani.  Hal ini akan memberi mereka beberapa gagasan tentang cara menangani situasi sulit yang mungkin mereka hadapi. Memanfaatkan siswa untuk bermain peran di depan kelas akan menjadi contoh yang baik. Pastikan ada tempat bagi siswa untuk menenangkan diri. Ruang aman ini akan memungkinkan siswa untuk berefleksi.

Mengukur Dampak Pembelajaran Sosial-Emosional

Mengukur dampak penerapan SEL di dalam kelas lebih dari sekadar nilai, saat siswa mengalami kesulitan dan prestasi sekolah buruk, mereka cenderung menganggap sekolah dan pembelajaran sebagai sumber kecemasan, yang diwujudkan dalam berkurangnya self-eficacy, motivasi, keterlibatan, dan keterhubungan dengan sekolah.  Ketika siswa diberikan alat/media yang terkait dengan SEL, mereka akan memiliki rasa tanggung jawab atas tindakan mereka, rasa memiliki, dan secara intrinsik akan peduli terhadap pendidikan mereka. Seorang siswa yang terlatih SEL secara konsisten mampu mengelola stres dengan lebih baik dan mengurangi kemungkinan anak tersebut mengalami depresi.

Siap Mengambil Langkah Berikutnya?

Menjadi seorang guru dapat menjadi pengalaman berharga yang membantu generasi baru mencapai tingkatan baru dan potensi penuh mereka.  Lalu?

 

 

 

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..