Mengenal Kurikulum Merdeka
Uswatun Hasanah, SE, M.Ak

Perjalanan Kurikulum Merdeka

Sejak pandemi Covid 19 melanda di akhir tahun 2019, segala aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, budaya, teknologi hingga pendidikan mengalami perubahan pola secara fundamental. Aturan mengenai protokol kesehatan diterapkan untuk mengurangi laju penyebaran virus. Social distancing atau jaga jarak ketika berkomunikasi atau melakukan aktivitas lainnya menimbulkan berbagai keterbatasan dalam melakukan kegiatan.

Dalam dunia pendidikan, berawal dari Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar yang kemudian diturunkan dalam Surat Edaran Mendikbud, SKB 4 Menteri maka dilakukan pilihan pola pembelajaran jarak jauh (dalam jaringan) untuk membatasi mobilisasi guru dan peserta didik. Kebutuhan pemenuhan penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara online serta berbagai platform. Pemberian materi, penyelesaian tugas, hingga proses evaluasi yang serba online, pada satu sisi mampu “memaksa” seluruh pihak yang terlibat baik guru, peserta didik, pengawas dan berbagai stakeholder lainnya di duna pendidikan untuk “segera” melek teknologi. Di sisi lain perbedaan latar belakang sosial, ekonomi dan kondisi lingkungan menunjukan kesiapan yang berbeda atas kemampuan sarana penunjang proses belajar mengajar berupa laptop, pc, gadget maupun dukungan internet.

Proses belajar mengajar membutuhkan perangkat device tertentu atau gadget serta jaringan internet yag mumpuni. Tidak hanya itu bahkan berbagai aplikasi Learning Management System diciptakan sebagai media komunikasi dan tempat pelaksanaan belajar mengajar di setiap satuan Pendidikan. Perubahan pola ini tentu menuntut kemampuan dan keterampilan guru untuk segera mampu beradaptasi dalam pengoperasian maupun kreatifitas pengajaran dan pemberian materi. Karena di sisi lain, bagi setiap murid perubahan proses pembelajaran menjadi serba online dapat membatasi ruang gerak mereka dalam bersosialisasi dengan teman sebaya maupun guru, sehingga bisa menimbulkan kejenuhan dalam belajar bahkan dampak  yang lebih buruk lagi adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap setiap materi yang diajarkan yang dapat menyebabkan ketertinggalan pembelajaran (learning loss).

Berangkat dari kondisi inilah dilakukan berbagai upaya untuk mengurangi kesenjangan hasil belajar di masa pandemi. Pada tahun 2020 hingga 2022 diberlakukan kebijakan opsional bagi satuan Pendidikan untuk menggunakan salah satu diantara 3 jenis kurikulum yaitu Kurikulum 13, Kurikulum Darurat (kurikulum 13 yang disederhanakan) dan Kurikulum Prototipe khusus bagi Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan.

Tren penyebaran Covid 19 yang semakin menurun di awal tahun 2022 diikuti pula dengan kebijakan pemulihan pembelajaran sehingga Kurikulum Prototipe dapat digunakan sebagai opsi bagi setiap satuan pendidikan. Selanjutnya pada tanggal 11 Februari 2022 Kurikulum Protipe di launching oleh Menteri Kemdikbudristek menjadi Kurikulum Merdeka.

Apa yang dimaksud dengan Kurikulum Merdeka?

Berdasarkan hasil studi nasional maupun internasional terhadap sistem pendidikan secara berkelanjutan, krisis pembelajaran masih terjadi di Indonesia. Hasil evaluasi PISA Indonesia masih di posisi rendah untuk kemampuan Literasi dan Numerasi. PISA sebagai metode untuk menganalisa kemampuan berpikir dan bernalar kritis mengukur hal-hal tersebut pada kompetensi yang mendasar dan esensial yaitu Literasi dan Numerasi . Terlepas dari pekerjaan maupun profesi apapun yang akan dijalani, kompetensi ini diyakini akan digunakan sepanjang hayat. Kompetensi literasi dan numerasi yang rendah berpotensi pada buruknya keberlangsungan masyarakat, yaitu peserta didik yang minim kemampuan dalam memahami bacaan sederhana dan matematika dasar dapat kesulitan untuk melanjutkan materi belajar di tingkat pendidikan selanjutnya, daya saing yang rendah dan pemahaman literasi yang  rendah juga berpotensi pada ketidakmampuan untuk menganalisa data hoax atau berita yang tidak kredibel.

Kondisi di atas semakin diperparah dengan tantangan pandemi. Materi pelajaran pada Kurikulum 13 dirasakan menjadi beban berat bagi guru dan peserta didik untuk dapat dipenuhi. Terjadi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada ketercapaian kompetensi peserta didik selama pandemi. Materi yang padat dan harus diselesaikan dalam jangka waktu 1 tahun ajaran menyebabkan guru berpacu pada penyelesaian rencana pembelajaran dibandingkan fokus pada pemahaman mendalam siswa. Proses belajar mengajar berpacu dengan target RPP dan kehilangan makna sebagai pembelajaran yang menyenangkan bagi setiap peserta didik sebagaimana harapan Ki Hajar Dewantara saat mendirikan Taman Siswa.

Berdasarkan kondisi di atas untuk memenuhi ketercapaian kompetensi peserta didik di setiap satuan pendidikan, dikeluarkan kebijakan pemulihan pembelajaran terkait implementasi kurikulum. Setiap  satuan pendidikan diberikan opsi kurikulum untuk  digunakan yaitu 1) Kurikulum 13, 2)Kurikulum Darurat dan ke 3)Kurikulum Merdeka.

Terdapat beberapa poin-poin penting terkait keunggulan Kurikulum Merdeka:

 

  1. Pembelajaran yang berdiferensiasi.

Setiap anak adalah istimewa dan telah dibekali dengan kemampuan, minat dan bakat yang unik dan luar biasa sejak lahir. Oleh karena itu setiap guru harus dapat memetakan dan menggunakan potensi tersebut untuk meningkatkan potensi dan capaian pembelajaran peserta didik.

Guru melakukan asesmen terlebih dahulu untuk memetakan kompetensi, minat dan bakat peserta didik. Asesmen ini untuk mengukur aspek kognitif dan non kognitif setiap siswa. Selanjutnya hasil asesmen tersebut digunakan oleh guru untuk menerapkan pola dan proses  pembelajaran yang terdiferensiasi bagi setiap peserta didik.

Selain asesmen di awal proses pembelajaran, dilakukan juga asesmen formatif dan sumatif. Hasil asesmen tersebut dapat melihat perkembangan capaian pembelajaran setiap peserta didik sehingga  treatment berbasis peta siswa tersebut diharapkan dapat dijadikan dasar untuk membimbing setiap siswa agar dapat mencapai kompetensi maksimal pada tujuan pembelajaran yang ditetapkan oleh sekolah dan menjembatani kesenjangan kompetensi antar siswa.

 

  1. Substansi ketercapaian kompetensi peserta didik lebih sederhana,esensial dan mendalam.

Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria minimal tentang kesatuan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang menunjukkan capaian kemampuan peserta didik dari hasil pembelajarannya pada akhir jenjang pendidikan.  Pengukuran terhadap Standar Kompetensi Lulusan dengan kurikulum Merdeka menggunakan pendekatan Capaian Pembelajaran yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Capaian Pembelajaran menjadi lebih sederhana namun mendalam karena hanya berisi materi-materi yang esensial dan fokus terhadap pembentukan profil pelajar Pancasila dan penumbuhan kompetensi literasi dan numerasi.

Selanjutnya  Capaian Pembelajaran tersebut dijabarkan dalam setiap tujuan pembelajaran yang disusun oleh masing-masing satuan pendidikan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kemerdekaan bagi setiap satuan pendidikan untuk menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan perkembangan karakteristik peserta didik dan isu kontemporer lainnya.

Sekolah membentuk tim yang dapat terdiri dari kepala sekolah, guru, pengawas, komite maupun  stakeholder lainnya untuk menyusun tujuan pembelajaran secara bersama-sama. Tujuan Pembelajaran yang dilakukan secara bersama-sama ini diharapkan mampu memenuhi aspirasi semua kebutuhan, kepentingan dan menyesuaikan kekhasan dan karakter  dari setiap satuan pendidikan.

 

  1. Masa pemenuhan Capaian Pembelajaran lebih fleksibel

Poin dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah mengubah proses pembelajaran bukan hanya sebagai pemenuhan kewajiban tetapi menjadi sebuah proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.

Setiap guru tidak hanya diminta untuk mampu memberikan pengajaran yang terbaik dengan pola mengajar diferensiasi, tetapi juga lebih mendalam dan bermakna. Pemenuhan Capaian Pembelajaran tidak hanya dibatasi dalam 1 tahun ajaran namun memiliki durasi yang lebih fleksibel yaitu pada fase-fase.

Fase terbagi menjadi enam etape yaitu Fase A (kelas 1 dan 2 SD), Fase B (Kelas 3 dan 4 SD), Fase C (kelas 5 dan 6 SD), Fase D (kelas 7,8 dan 9 SMP), Fase E (kelas 10 SMA), Fase F (kelas 11 dan 12 SMA).

Saat merencanakan pembelajaran di awal tahun ajaran, guru dalam fase yang sama dapat berkoordinasi dan berkolaborasi untuk mengetahui ketercapaian pembelajaran peserta didik di kelas sebelumnya sehingga menjadi acuan untuk merencanakan pembelajaran selanjutnya.

 

  1. Pembelajaran berbasis project

Selain pembelajaran intrakurikuler, terdapat alokasi projek untuk pembelajaran sebanyak 20% sampai dengan 30% jam pelajaran. Persentase projek tersebut tidak untuk per mata pelajaran akan tetapi merupakan perpaduan lintas disiplin ilmu. Projek difokuskan untuk mengangkat isu-isu yang ada di lingkungan sekitar untuk lebih meningkatkan kepekaan peserta didik terhadap lingkungan dan kemampuan berpikir kritis, analitis dan problem solving.

Projek Penguatan profil Pelajar Pancasila ini bertujuan tidak hanya peningkatan pengetahuan dan kompetensi yang komprehensif namun juga upaya pencapaian karakter Profil Pelajar Pancasila.

Tujuan  Kurikulum Merdeka untuk mengatasi krisis pembelajaran (learning crisis) saat ini masih dalam proses dan evaluasi. Saat ini kewajiban menggunakan Kurikulum Merdeka baru diberlakukan pada Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan sejak tahun 2021. Sehingga sebelum diterapkan secara nasional di tahun 2024, saat ini setiap pengguna kurikulum diberikan kesempatan untuk belajar menggunakan dan menerapkan di satuan Pendidikan sehingga dapat tercapai transformasi sekolah menjadi tempat yang aman,  inklusif dan menyenangkan.

Tujuan akhir dari pendidikan bagi peserta didik di setiap jenjangnya yaitu pemenuhan tiga indikator yaitu atas pengetahuan, keterampilan dan sikap yaitu pembentukan karakter profil Pancasila yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, bergotong royong dan kreatif dan peningkatan literasi, numerasi  bagi jenjang  dasar dan  jenjang menengah yaitu pengetahuan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik agar dapat hidup mandiri dan mengikuti Pendidikan lebih lanjut dapat tercapai.

Setiap anak adalah unik. Mereka memiliki kompetensi, ciri khas dan karakternya masing-masing. Karenanya konsep pendidikan konvensional dan monoton yang memberlakukan model pembelajaran dan asesmen yang homogen untuk semua siswa tidak sejalan dengan eksistensi setiap manusia yang memiliki tipe kecerdasan yang berbeda-beda. Pemetaan awal, materi yang lebih sederhana namun substansi dan mendalam, metode pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan serta menggunakan pendekatan differensiasi dilengkapi dengan metode asesmen formatif dan sumatif sebagaimana spirit Kurikulum Merdeka diharapkan  mampu diimplementasikan satuan pendidikan sehingga dapat merancang pembelajaran sesuai dengan tahapan capaian peserta didik dan memaksimalkan setiap kompetensi sehingga sikap, keterampilan dan pengetahuannya dapat berkembang masing-masing secara optimal.

 

Setiap bunga adalah indah

Teratai pada media air, mawar di suhu panas, dan kaktus di daerah kering

Berikanlah media dan pupuk yang sesuai kemudian tanam dan rawatlah

Kelak mereka akan tumbuh dan berkembang istimewa dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing

 

Foto: Tim Publikasi BPMP Provinsi DKI Jakarta

 

 

 

 

 

 

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..