Ketika aku menjadi ibu…

Bagai pinang dibelah dua

Makhluk serupa tapi tak sama

Anak-anak tidak hanya perlu tumbuh, mereka harus dikembangkan. Ibu lah stimulus terbaiknya. Sekalipun pada kondisi yang tak sempurna, berusahalah menjadi ibu terbaik baginya.

Menemukan Kunci: Bicara Efektif

Tak ada ikhtiar yang bersungguh-sungguh yang tidak membuahkan hasil. Keyakinan itu menancap kuat di lubuk hati ini. Perlahan kutemukan satu kunci pembuka pintu bahagia kami berdua, yakni cara berkomunikasi.

Kami membangun sebuah cara bicara yang efektif, yang sangat memudahkan kami untuk hangat bertukar informasi meski seringkali berpisah jarak. Caranya dengan membangun bersama kesepakatan-kesepakatan. Seperti aturan main di dalam rumah, pengaturan waktu keseharian, pembagian tugas dan tanggung jawab, hingga saling menjaga diri masing-masing.

Meski terkesan rumit, kami jalaninya dengan rileks saja, dengan tetap menjaga kemesraan antara ibu dan anak. Bahagia kami tiada terkurangi dengan keadaan yang berbeda. Ketika kita sudah dapat menentukan ruang bahagia, jendela-jendela hati terbuka dan mengajari kita menatap lebih luas. Banyak hal yang perlu disyukuri ketimbang meratap tak berarti. Yakin bahwa kesungguhan hati yang ikhlas merawat jiwa anak akan sampai pada relung hatinya.

Anak yang paham betul bahwa ia dicintai akan memiliki kekuatan hebat untuk percaya diri walau apapun kondisi di sekitarnya. Cinta adalah kekuatan. Keefektifan komunikasi lisan membimbing kami pada banyak kemudahan. Rumah yang sempat porak-poranda kini pelan-pelan tertata lagi. Menjadi hangat lagi dengan harapan-harapan baru yang menyemangati.

Kami berdua membangun cita-cita besar bersama, tentang menjadi manusia yang punya karya meski hidup kami tak sama dengan mereka yang sempurna berkeluarga. Motivasi kami adalah melakukan segala sesuatu dengan usaha terbaik. Menjadi ibu yang baik, bekerja di kantor dengan baik, dan bermasyarakat sosial yang baik. Begitupun anakku. Ia menjadi anak yang baik dan tergabung dalam kelompok siswa terbaik. Tak hanya mengukir prestasi akademik, ia tumbuh menjadi anak yang berbakat dengan serangkaian prestasi di bidang seni, tari, dan olah kata.

Bayangkan, meski kita tak sempurna, namun apa alasan untuk terus bersedih, karena Allah tak henti mengkaruniakan nikmat-Nya. Maka, berpikirlah berkali-kali untuk mengikuti suara hati yang melemahkan. Merapatlah kepada Tuhanmu. Mengadulah atas semua beban hatimu di setiap sujudmu. (Dalam “Denting Sedu Separuh Aku”, Anti Kesuma, 2019)

 

Terus semangat menjadi ibu yang tangguh, bersahabat dan inspiratif.

Selamat Hari Ibu.

(antiK/ 22 Desember 2021)

 

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..