Belajar Bersama dalam Jaringan (BerBaRing) “RPP PJJ Model Project Based Learning”
Oktora Melansari, S.Sos, MA

Episode BerBaRing di minggu kedua bulan Juli pada Jumat tanggal 16 Juli 2021 kali ini menghadirkan duet Widyaprada LPMP Provinsi DKI Jakarta, Widyaningtyas Sistaningrum, SE, MM sebagai narasumber dan Dr. Didang Setiawan sebagai moderator dengan tema RPP PJJ Model Project Based Learning. Tema yang rupanya telah dinanti-nanti oleh para pendidik dan tenaga kependidikan sehingga peserta Zoom Meeting full seat berjumlah 250 orang dan 100 orang lebih melalui kanal Youtube berasal dari berbagai daerah tidak hanya dari DKI Jakarta tetapi juga dari daerah lain seperti Banten, Jawa Timur, Kepulauan Riau, NTB dan lain-lain.

 

Pada presentasinya narasumber yang akrab disapa Bu Wied, menjelaskan bahwa di masa pandemi ada hal-hal yang harus berubah, namun ada yang tidak boleh berubah bahwa setiap individu harus selalu belajar dalam segala aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Memasuki awal tahun ajaran baru setiap pendidik harus mampu menyiapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang efektif dan efisien dengan menentukan model pembelajaran yang tepat yang diawali dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di era Pandemi.

Pada Permendikbud nomor 103 tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah harus menggunakan pendekatan Saintifik dan model pembelajaran yang disarankan yaitu: discovery base learning, project based learning, problem based learning, dan product base learning.

Prinsip pembelajaran di era new normal perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Informasi dan Teknologi (IT) hanyalah perangkat yang membantu proses pembelajaran, gunakan perangkat yang ada, yang penting terjalin komunikasi. Penggunaan IT dalam PJJ menimbulkan adanya keterbatasan fisik, contohnya gangguan pada mata. Idealnya perminggu mata kita hanya boleh menatap layar komputer/gawai selama 28 jam, itu artinya setiap hari maksimal 4 jam menatap layar monitor. Dengan demikian proses pembelajaran tidak seharusnya terus menerus dilaksanakan secara daring.

Project Based Learning adalah pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Model pembelajaran ini dimulai dengan memunculkan pertanyaan menuntun dan membimbing siswa dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasian berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.

 

Prinsip Project Based Learning (PjBL) yaitu:

  1. Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata.
  2. Tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pembelajaran.
  3. Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata.
  4. Produk, laporan atau hasil karya tersebut selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan dan umpan balik untuk perbaikan proyek berikutnya.

 

 

Selain menjelaskan apa itu PjBL, manfaat, kriteria, langkah-langkah pelaksanaannya, sintaks kegiatan sampai dengan contoh rubrik penilaian proyek semua dibahas secara jelas dan detail oleh narasumber yang cantik dan cerdas ini.

Sebelum memulai diskusi pada akhir sesi kegiatan, Kang Didang selaku moderator meng-highlight materi kegiatan antara lain:

  • PJJ bukan berarti harus di depan computer;
  • Sesungguhnya siswa dapat belajar sendiri, salah satunya dengan menggunakan project based learning;
  • PBL bisa diterapkan di beberapa mata pelajaran sekaligus; dan
  • Yang terpenting memperhatikan sintaksnya, jangan lupa setelah PBL tadi harus membuat laporan penyelesaiannya, penyusunannya seperti apa, formatnya, penyelesaian dan fasilitasi monitoring.

Presentasi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab seputar materi yang telah disampaikan. Salah satunya Dedi, Guru SMPN 29, yang menceritakan pengalaman best practice PjBL yang telah melaksanakan di mapel PJOK melalui kegiatan olahraga Pencak Silat kolaborasi dengan kreasi Seni Budaya, dalam kesempatan ini beliau sekaligus menanyakan bagaimana implementasi pembuatan RPP PjBL tersebut. Hal ini ditanggapi positif oleh narasumber yang menyebutkan bahwa kegiatan ini bisa mengkolaborasi 3 mapel sekaligus yaitu PJOK, Seni Budaya dan IPS Sejarah, dengan menentukan tema project, KD, rubrik, cek progress dan keseluruhan rangkaian proses PjBL. Indikator penilaian disesuaikan dengan mata pelajaran masing-masing. Lebih lanjut Bu Wied memberikan contoh sekolah yang pernah melakukan PjBL dengan proyek membuat sebuah negara, yang mana semua mapel dapat terangkum dalam proyek tersebut.

Pertanyaan lain disampaikan oleh Sri Yuli Astuti, guru SLB Negeri 6 Jakarta, yang mempertanyakan bagaimana pelaksanaan PjBL di satuan pendidikan SLB Tuna Rungu. Selain itu di kolom chat juga ada beberapa SLB yang meminta difasilitasi kegiatan sosialisasi implementasi PjBL di SLB.  Tanggapan narasumber menjelaskan bahwa pada prinsipnya untuk SLB adalah kemandirian siswa, sesuai dengan ketunaannya. Buat tema PjBL yang membuat anak bermain sambil belajar dan yang menyenangkan, tujuan utamanya agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan struggle for life.

Diskusi berlangsung dengan hangat, namun karena keterbatasan waktu tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh narasumber. Durasi kegiatan selama 2 jam rasanya tak cukup memuaskan rasa ingin tahu para guru. Semoga dengan kegiatan BerBaRing ini semakin dapat menambah pengetahuan dan wawasan para pendidik dan tenaga kependidikan. Terus Maju Pendidikan Indonesia…!

Kegiatan ini dapat diikuti kembali di kanal Youtube Official LPMP DKI Jakarta di link: http://www.youtube.com/watch?v=ldvtE23Qw-c

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..

Open chat