Belajar Bersama dalam Jaringan (BerBaRing) “Pandemi Omicron, amankah siswa PTM..?”
Oktora Melansari, S.Sos, MA

Edisi perdana Belajar Bersama dalam Jaringan (BerBaRing) Tahun 2022 pada Jumat, 11 Maret 2022 jam 13.30 – 15.30 WIB menyajikan tema yang sedang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat pendidikan. Tema “Pandemi Omicron, amankah siswa PTM..?” menampilkan narasumber Dr. Awidiya Afiati, Sp.A (Dokter Spesialis Anak Klinik Budhi Pratama dan RS Hermina Depok) dipandu moderator Dini Pratiwindya, M.Pd (PTP LPMP Provinsi DKI Jakarta). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta tidak hanya dari DKI Jakarta tetapi juga dari berbagai daerah seperti Cirebon, Medan, Bogor, Papua, dan lain-lain.

Kepala LPMP Provinsi DKI Jakarta, Moch. Salim Somad, S.Kom, M.Pd pada sambutannya menyatakan bahwa Kegiatan BerBaRing ini merupakan bagian dari program layanan inovasi Warung Bersama yang dinamis dan adaptif terhadap pekembangan yang terjadi untuk menjawab kebutuhan terkini seperti trend penyebaran Covid varian Omicron yang diulas oleh pakarnya. Harapannya seluruh peserta mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar.

Pada paparannya narasumber menjelaskan  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mempertimbangkan beberapa hal antara lain sudah ditemukan varian Omicron di Indonesia, bahkan data di negara lain yaitu Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Afrika terkait peningkatan kasus COVID-19 pada anak dalam beberapa minggu terakhir. Sebagian besar kasus anak yang sakit adalah anak yang belum mendapat imunisasi COVID-19. Kebijakan pembelajaran tatap muka telah diterapkan di Indonesia dengan inovasi metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi yang ada mengingat pentingnya proses pendidikan anak usia sekolah.

Berdasarkan hal tersebut maka IDAI merekomendasikan sebagai berikut:

  • Untuk membuka pembelajaran tatap muka, 100% guru dan petugas sekolah harus sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19.
  • Anak yang dapat masuk sekolah adalah anak yang sudah diimunisasi COVID-19 lengkap 2 kali dan tanpa komorbid

Sekolah tetap harus patuh pada protokol kesehatan terutama fokus pada:

  • Penggunaan masker wajib untuk semua orang yang ada di lingkungan sekolah.
  • Ketersediaan fasilitas cuci tangan.
  • Menjaga jarak.
  • Tidak makan bersamaan.
  • Memastikan sirkulasi udara terjaga.
  • Mengaktifkan sistem penapisan aktif per harinya untuk anak, guru, petugas sekolah dan keluarganya yang memiliki gejala suspek COVID-19.

 Untuk kategori anak usia 12-18 tahun

  • Pembelajaran tatap muka dapat dilakukan 100 % dalam kondisi berikut:
    1. Tidak adanya peningkatan kasus COVID-19 di daerah tersebut.
    2. Tidak adanya transmisi lokal Omicron di daerah tersebut.
  • Pembelajaran tatap muka dapat dilakukan metode hybrid (50% luring, 50% daring) dalam kondisi berikut:
    1. Masih ditemukan kasus COVID-19 namun positivity rate dibawah 8%.
    2. Ditemukan transmisi lokal Omicron yang masih dapat dikendalikan.
    3. Anak, guru, dan petugas sekolah sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19 100%.

 Untuk kategori anak usia dibawah 6 tahun

  • Sekolah pembelajaran tatap muka belum dianjurkan sampai dinyatakan tidak ada kasus baru COVID-19 atau tidak ada peningkatan kasus baru.
  • Sekolah dapat memberikan pembelajaran sinkronisasi dan asinkronisasi dengan metode daring dan mengaktifkan keterlibatan orangtua di rumah dalam kegiatan
  • Sekolah dan orangtua dapat melakukan kegiatan kreatif seperti:
    1. Mengaktifkan permainan daerah di rumah.
    2. Melakukan pembelajaran outdoor mandiri di tempat terbuka masing-masing keluarga dengan modul yang diarahkan sekolah seperti aktivitas berkebun, eksplorasi alam dsb.
    3. Rekomendasi bermain dapat mengutip dari rekomendasi permainan anak sesuai rekomendasi IDAI.

Selain dari aturan umum di atas, yang perlu diperhatikan juga adalah Anak dengan komorbiditas dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak. Komorbiditas anak meliputi penyakit seperti keganasan, diabetes melitus, penyakit ginjal kronik, penyakit autoimun, penyakit paru kronis, obesitas, hipertensi, dan lainnya.

Paparan materi kemudian dilanjutkan diskusi interaktif yang berlangsung sangat seru karena antusiasme peserta yang ingin mengetahui lebih jauh lagi terkait pembahasan materi ini. Di antara penanya yaitu Penny Rahasan dan Asrudin, M.Pd mempertanyakan terkait bagaimana tentang kegiatan olahraga di sekolah, dijawab untuk saat ini kondisi Jakarta level 2, jadi perlu tetap dilaksanakan prokes ketat, dilaksanakan outdoor  untuk mencegah penyebaran virus.

   

Selain itu peserta atas nama Hozin menanyakan bagaimana gejala omicron? Kemudian dijawab gejalanya sangat bervariasi, bisa khas seperti gejala flu bahkan dehidrasi dan sesak nafas namun juga bisa tanpa gejala. Hanya bisa diketahui melalui SWAB/PCR.

Menghadap pandemi omicron ini kita semua harus tetap optimis, tetap waspada, jalankan prokes 5M, semua wajib bekerjasama dan mendukung agar proses pembelajaran tetap berjalan demi pendidikan generasi bangsa yang lebih baik.

Kegiatan ini dapat disaksikan dengan lengkap melalui kanal Youtube Official LMP DKI di link: http://www.youtube.com/watch?v=81sEM3r6Sgk

Jangan lupa klik like, comment and subscribe yaa…!

 

 

 

 

 

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..