Belajar Bersama dalam Jaringan, 6 Mei 2021 “Prokes Dalam Pembelajaran Tatap Muka”
Oktora Melansari, S.Sos, MA

Episode Belajar Bersama dalam Jaringan (BerBaRing), Kamis 6 Maret 2021 dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional mengangkat tema “Protokol Kesehatan Dalam  Pembelajaran Tatap Muka”. Tema yang sedang hangat diperbincangkan saat ini  dibahas secara tuntas dan jelas oleh Narasumber Dr. dr. Andi Julia Rifiana, M.Kes (IDI Wilayah Provinsi DKI Jakarta) dan dipandu oleh moderator dr. Rita Kumalasari, Sp. KFR (Dokter Klinik Mitra LPMP Provinsi DKI Jakarta).

       

Kegiatan yang diikuti oleh 200 lebih peserta dibuka oleh Kepala LPMP Provinsi DKI Jakarta, M. Salim Somad, S.Kom, M.Pd, pada kesempatan ini beliau menyampaikan bahwa Pandemi Covid-19 yang telah berjalan selama 1 tahun lebih, sangat memprihatinkan dengan kondisi pandemic saat pembelajaran harus dilakukan secara daring melalui PJJ efektifitas metode daring sering dipertanyakan, terjadi kejenuhan akibat metode yang tidak tepat, PTK dan siswa yang tidak siap, fasilitas yang kurang mendukung, dll kendala yang dihadapi. Melihat gejala ini pemerintah menggagas Pembelajaran Tatap Muka (PTM), namun perlu diperhatikan prokes agar tidak terjadi peningkatan kasus. Saat ini sudah dilakukan uji coba PTM di 85 sekolah di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Di awal presentasinya narasumber yang akrab disapa dr. Evi ini menyebutkan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia pertanggal 4 Mei 2021 berjumlah 1.686.373, untuk Provinsi DKI Jakarta sendiri tercatat 411.73 kasus. Jumlah penduduk usia 6-18 tahun terkonfirmasi kasus positif C19 juga terus meningkat. Anak sekolah ada di posisi risiko SEDANG, maka apabila akan melakukan PTM harus dengan prokes yang sangat ketat, karena kondisi anak usia sekolah sangat rentan terhadap penyakit.

Prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi COVID-19 yaitu: Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga  kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama  dalam menetapkan kebijakan pembelajaran namun tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial juga menjadi  pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama masa  pandemi COVID-19.

Untuk itu Sasaran Edukasi Perubahan Perilaku ada pada sekolah, pendidik, siswa, dan keluarga dengan Aksi Kunci:

  1. Setiap sekolah membuat program/proyek perubahan perilaku
  2. Setiap guru membuat program/proyek pembelajaran  perubahan perilaku à sesuai dengan bidang mata pelajarannya
  3. Setiap siswa membuat satu project membuat perubahan  individu dan pelopor perilaku
  4. Setiap keluarga memiliki KIE/instrumen/buku saku unik dalam  menerapkan protokol kesehatan di keluarganya à proyek  bersama

 Peran Petugas Promkes Dalam Pencegahan COVID-19 di Sekolah/Madrasah

  1. Melakukan koordinasi dengan TP. UKS, Komite Sekolah,  Pengawas Sekolah, Yayasan serta Ka-Sekolah dalam  penyelenggaraan kegiatan promkes dalam pencegahan dan  pengendalian COVID-19 di sekolah/madrasah.
  2. Melakukan advokasi agar Komite Sekolah, Yayasan serta Kepala  Sekolah agar mengeluarkan kebijakan tentang penerapan  protokol kesehatan dan menjadikan sekolah/madrasah sebagai  institusi pendidikan yang sehat dan aman     COVID-19.
  3. Bekerjasama dengan TP.UKS , Lintas Program, Lintas Sektor  melakukan penyuluhan/ komunikasi risiko serta melakukan  pemeriksaan kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian  COVID-19 secara berkala.
  4. Membangun dan memperkuat jejaring dengan lintas program,  lintas sektor/ satgas penanganan COVID-19 di wilayahnya untuk  bersama-sama melakukan pemantauan penerapan protokol  kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku serta surveilans  pengendalian COVID-19 di institusi  pendidikan/sekolah/madrasah.
  5. Melakukan rujukan apabila ada kasus Suspek, Kontak  Erat, Probabel ke Rumah Sakit yang memberikan  pelayanan kasus COVID-19.
  6. Memberdayakan kader/warga sekolah dalam kegiatan  promosi pencegahan dan pengendalian COVID-19 di  Sekolah/Madrasah.
  7. Melakukan pencatatan, dokumentasi dan pelaporan  kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan dan  pengendalian COVID-19 di sekolah/madrasah.

Di akhir presentasinya Dr Evi menegaskan bahwa sampai saat ini pandemic belum menunjukkan tanda-tanda penurunan bahkan semakin hari semakin mengkhawatirkan dengan munculnya varian baru B117 yang bermula di Inggris kemudian ke beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman,termasuk Indonesia. Hati-hati lonjakan kasus pada klaster Idul Fitri.

Sesi tanya jawab diikuti sangat antusias oleh seluruh peserta, berbagai pertanyaan diajukan antara lain terkait seberapa efektif vaksin terhadap virus varian baru C19, kapan mantan penderita covid dapat divaksin, bagaimana SOP PTM, dan lain-lain dijawab dengan sangat jelas oleh narasumber, namun karena waktu yang terbatas moderator tidak semua pertanyaan peserta dapat dijawab.

Prokes dalam PTM harus tetap dilaksanakan bukan hanya oleh sekolah namun oleh semua pihak. Pelaksanaannya tidak bisa sendiri namun harus bersama-sama. Semoga pandemic ini segera berakhir dan pendidikan di Indonesia dapat segera pulih dan semakin maju. Mari semua pihak Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar!

Kegiatan ini dapat disaksikan kembali secara lengkap melalui kanal Youtube Official LPMP DKI melalui link: http://www.youtube.com/watch?v=IJvN7l7cdPs

 “Mutan Inggris (B.1.1.7), terbukti lebih berbahaya pada anak-anak dan remaja, maka kita perlu menempatkan perlindungan sekolah lebih di depan dan di tengah dibandingkan dengan virus aslinya (virus varian Wuhan)”

Kanselir Jerman Angela Merkel, 24 Maret 2021 (Sumber: Reuters)

Bagikan ..

Noor Fatimah

Bagikan ..